Wakil Bupati Kutim Mahyunadi hadir dalam kajian Hanan Attaki.Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Ribuan warga memadati Gedung Buana Mekar pada Sabtu (25/4/2026) malam, untuk menyimak tausiah dari pendakwah muda, Ustaz Hanan Attaki. Kehadiran penceramah yang karismatik di mata generasi milenial dan Gen Z tersebut membawa pesan mendalam tentang penerimaan takdir dan kontribusi sosial di tengah tekanan kehidupan modern.
Antusiasme jemaah terlihat dari area gedung yang penuh sesak hingga meluber ke halaman luar. Jemaah tidak hanya datang dari wilayah perkotaan Sangatta, tetapi juga menempuh perjalanan jauh dari berbagai pelosok seperti Rantau Pulung, Kaliorang, Bengalon, hingga kota tetangga, Bontang.
Dalam kajian bertajuk pesan kehidupan tersebut, Hanan Attaki menekankan tema besar mengenai ketetapan Tuhan. Dengan narasi yang tenang, ia menegaskan bahwa setiap fragmen kehidupan manusia telah diatur dengan presisi.
“Allah tidak pernah salah menulis takdir,” ujarnya di hadapan ribuan jemaah yang menyimak dengan khidmat.

Ia mengingatkan bahwa setiap peristiwa, bahkan hal sekecil daun yang jatuh, merupakan bagian dari skenario besar yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Pesan ini menjadi oase bagi generasi muda yang sering kali terjebak dalam kecemasan akan masa depan (quarter-life crisis) dan ambisi materi yang melelahkan.
Hanan juga mengajak jemaah untuk bergeser dari sekadar mengejar pencapaian angka menuju pengejaran kebermanfaatan. Menurutnya, kontribusi manusia tidak melulu soal harta, melainkan bisa diwujudkan melalui pikiran, tenaga, hingga empati.
Selain aspek vertikal dengan Tuhan, Hanan Attaki turut menyinggung pentingnya aspek horizontal, yakni hubungan antarmanusia. Ia mendorong jemaah untuk membangun “lingkaran kehidupan” (circle) yang sehat, mulai dari keluarga, tetangga, hingga lingkungan organisasi. Lingkungan sosial yang positif dinilai menjadi penopang vital dalam perjalanan hidup seseorang agar tetap terarah.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, yang hadir mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman, mengaku bangga melihat besarnya minat generasi muda terhadap literasi spiritual. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Dalam sambutannya, Mahyunadi menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai agama merupakan benteng utama dalam menghadapi dampak negatif modernisasi dan globalisasi.
“Kajian seperti ini sangat penting sebagai sarana memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan agar kita semua terhindar dari perbuatan tercela,” kata Mahyunadi.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan keagamaan yang mampu menjadi perekat kebersamaan masyarakat.
“Sebagus-bagusnya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Ambil peran dan berkontribusilah dalam kehidupan,” tutup Mahyunadi.
Acara yang berlangsung hingga larut malam tersebut ditutup dengan doa bersama. Meski harus berdesakan, para jemaah bertahan hingga akhir, membawa pulang pesan tentang ketenangan batin dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama di Kutim.(kopi10/kopi13)






























