Dinas Damkarmat Kutim saat memberikan mitigasi tentang kebakaran di depan siswa-siswi TK Negeri Pembina.Foto: Habibah/Pro Kutim
SANGATTA – Upaya mitigasi bencana kebakaran di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini mulai menyasar kelompok usia dini. Melalui pendekatan edukasi interaktif, anak-anak diperkenalkan pada langkah-langkah pencegahan bahaya api serta peran strategis petugas penyelamatan sebagai bagian dari pembentukan karakter sadar keselamatan.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Kutim menggelar simulasi edukatif bagi siswa-siswi TK Negeri Pembina di halaman Markas Komando Damkarmat, Sangatta, Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bunda PAUD Kutim Siti Robiah Ardiansyah dan Kepala TK Negeri Pembina Nurjannah.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya diperkenalkan pada peralatan teknis, tetapi juga dilibatkan langsung dalam simulasi pemadaman api kecil. Anak-anak diajak berinteraksi dengan petugas, mencoba menyemprotkan air menggunakan selang pemadam, hingga mengenal unit armada operasional yang digunakan dalam tugas sehari-hari.


Kepala Dinas Damkarmat Kutim, Failu, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk menghapus stigma rasa takut anak terhadap api sekaligus memperkenalkan profesi pemadam kebakaran sebagai petugas penyelamatan (rescue).
“Kami ingin mengenalkan profesi damkar tidak hanya sebagai pemadam api. Anak-anak diajak berinteraksi langsung agar mereka memahami peran penyelamatan dalam arti luas,” kata Failu.
Metode belajar di luar kelas (outing class) ini dinilai efektif karena menggabungkan unsur permainan dengan pengetahuan praktis. Selain bagi para siswa, edukasi ini turut melibatkan para orangtua murid. Hal ini dilakukan agar rantai informasi mengenai pencegahan kebakaran dapat terjaga hingga ke lingkungan rumah tangga.
Kepala TK Negeri Pembina, Nurjannah, menilai model edukasi interaktif sangat krusial dalam membangun pemahaman mendalam bagi anak usia dini. Menurut dia, pengalaman visual dan motorik saat mencoba peralatan pemadam akan lebih membekas dalam ingatan siswa.

“Anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan, sehingga pesan keselamatan lebih mudah diingat. Ini langkah penting untuk membentuk kesadaran sejak dini,” ujar Nurjannah.
Pelibatan orangtua dalam kegiatan ini menjadi strategi tambahan bagi Damkarmat Kutim untuk memperkuat ketahanan keluarga terhadap risiko kebakaran. Dengan keterlibatan wali murid, diharapkan ada keselarasan tindakan antara apa yang dipelajari anak di sekolah dan praktik keamanan di dapur atau lingkungan rumah.
Pemerintah Kabupaten Kutim berharap program edukasi berkelanjutan ini dapat menciptakan masyarakat yang lebih tanggap terhadap risiko bencana di masa depan. Melalui pengetahuan dasar tentang bahaya api yang ditanamkan sejak kecil, risiko kecelakaan akibat kebakaran di wilayah permukiman diharapkan dapat ditekan secara signifikan.(kopi10/kopi13)































