Beranda Keagamaan 17 Rombongan Takbir Keliling Sambut Iduladha 1447 Hijriah di Sangatta

17 Rombongan Takbir Keliling Sambut Iduladha 1447 Hijriah di Sangatta

65 views
0

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman melepas peserta takbir keliling sambut Iduladha 1447 H.Foto: Fathul/Pro Kutim

SANGATTA – Malam di halaman Masjid Agung Al-Faruq, Komplek Islamic Center Sangatta, Selasa (26/5/2026), tidak hanya dipenuhi cahaya lampu kendaraan hias dan riuh pekik takbir. Di antara gema tahmid dan tahlil yang bergaung memecah langit Kota Sangatta, masyarakat Kutai Timur (Kutim) menandai datangnya Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah dengan sebuah peristiwa yang telah menjelma menjadi laku budaya sekaligus syiar keagamaan, pawai takbir keliling.

Sebanyak 17 rombongan ambil bagian dalam pawai yang dilepas langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. Iring-iringan kendaraan berhias ornamen Islami itu kemudian bergerak menyusuri jalan-jalan protokol kota, diiringi lantunan takbir yang membahana dari pengeras suara dan gema suara warga yang memadati tepi jalan.

Bagi masyarakat Muslim di Kutim, malam takbiran bukan semata perhelatan seremonial tahunan. Momentum itu menjadi pengingat tentang makna pengorbanan, ihsan (berbuat baik), serta kepedulian sosial yang terkandung dalam ibadah kurban. Sebelum melepas peserta, Ardiansyah mengajak masyarakat memahami kemuliaan bulan Dzulhijjah yang dalam ajaran Islam termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan bersama Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Dalam bulan-bulan itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh serta menjaga diri dari perbuatan sia-sia maupun kemaksiatan.

“Bulan haram adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, kita dianjurkan memperbanyak ibadah dan lebih berhati-hati dalam menjaga perilaku,” kata Ardiansyah.

Ia menjelaskan, malam takbiran tahun ini berlangsung setelah umat Islam menjalani Hari Arafah pada 9 Dzulhijjah. Pada saat bersamaan, jemaah haji di Tanah Suci tengah bersiap menjalani rangkaian ibadah wukuf sebelum bergerak menuju Mina. Karena itu, masyarakat di tanah air juga diajak memperteguh ibadah melalui salat Iduladha, memperbanyak takbir, serta melaksanakan kurban bagi yang mampu.


Di hadapan peserta dan masyarakat yang memadati kawasan masjid, Ardiansyah juga menekankan dimensi sosial dari ibadah kurban. Menurut dia, kurban bukan hanya simbol ketakwaan individual, melainkan juga ikhtiar berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.
Ia turut menjelaskan bahwa seekor sapi dapat diperuntukkan bagi satu orang maupun dilaksanakan secara kolektif hingga tujuh orang.

Penjelasan itu disampaikan sebagai bentuk edukasi keagamaan agar masyarakat memahami tata cara kurban secara benar.
Tak hanya itu, Bupati Kutim tersebut turut mengingatkan ihwal Hari Tasyrik, yakni tiga hari setelah Iduladha yang menjadi waktu penyembelihan hewan kurban sekaligus hari yang diharamkan untuk berpuasa.

“Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengagungkan nama Allah SWT,” ujarnya.

Kemeriahan malam takbiran tampak dari antusiasme peserta yang menampilkan beragam kendaraan hias bertema Islami. Sebagian dihias menyerupai kubah masjid, kaligrafi, hingga replika miniatur bangunan bernuansa Timur Tengah. Lampu-lampu warna-warni berpadu dengan tabuhan beduk dan lantunan takbir yang terus menggema sepanjang perjalanan. Di tengah suasana itu, seorang peserta pawai, Bintang Jaya Saputra, mengaku gembira dapat kembali mengikuti takbir keliling yang tahun ini berlangsung semarak.

“Saya sangat senang bisa ikut berpartisipasi malam ini. Persiapan mobil hias sudah kami lakukan sejak beberapa hari lalu bersama teman-teman,” katanya.

Bagi sebagian warga, pawai takbir keliling menjadi ruang temu sosial yang mempererat ukhuwah Islamiyah. Tradisi itu menghadirkan suasana kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk, sekaligus menghidupkan denyut syiar Islam di ruang publik. Menjelang penutupan sambutannya, Ardiansyah menyampaikan ucapan selamat Iduladha kepada seluruh masyarakat Kutim.

“Atas nama pribadi, Pemkab Kutim, dan seluruh masyarakat, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Iduladha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin,” tuturnya.

Usai sambutan, Bupati bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) secara resmi melepas iring-iringan peserta. Satu per satu kendaraan bergerak meninggalkan halaman masjid, menyusuri ruas utama Kota Sangatta dalam balutan gema takbir yang sahut-menyahut hingga larut malam.

Sebelumnya, Ketua Panitia Takbir Keliling yang juga Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kutim, Nor Hadi, menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini diikuti 17 peserta yang berasal dari unsur Forkopimda, perangkat daerah, paguyuban, hingga kelompok masyarakat.

“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Ada 17 rombongan yang ikut memeriahkan takbir keliling malam ini. Kami juga sudah berkoordinasi dengan aparat keamanan agar kegiatan berjalan tertib, aman, dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya,” ujar mantan Camat Muara Bengkal tersebut.

Di bawah langit Sangatta yang dipenuhi gema takbir, malam itu masyarakat Kutim tidak hanya merayakan datangnya Iduladha. Mereka juga merawat tradisi, memperkuat kebersamaan, dan meneguhkan kembali nilai berbagi yang menjadi inti dari hari raya kurban. (kopi5/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini