Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi disambut secara adat Mopotilolo oleh Buapti Gorontalo Sofyan Puhi (Vian Pro Kutim)
GORONTALO – Langit malam di Kabupaten Gorontalo, Jumat (19/6/2026), tidak hanya menjadi saksi berkumpulnya para kepala daerah dari berbagai penjuru Nusantara untuk Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII Tahun 2026. Di tengah denyut perhelatan nasional itu, terselip sebuah peristiwa budaya yang sarat makna. Prosesi adat Mopotilolo yang menyambut kedatangan Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim), Mahyunadi.
Di Rumah Dinas Bupati Gorontalo, suasana khidmat berpadu dengan keakraban. Prosesi adat tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, serta dihadiri sejumlah kepala daerah dari berbagai wilayah Indonesia, di antaranya Bupati Simalungun Anton Saragih dan Wakil Bupati Kutai Barat Nanang Adriani.
Bagi masyarakat Gorontalo, Mopotilolo bukanlah upacara penyambutan biasa. Tradisi yang telah mengakar dalam khazanah budaya daerah itu merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu agung, pejabat negara, maupun kepala daerah yang pertama kali menapakkan kaki di tanah Gorontalo. Melalui tata cara adat yang diwariskan lintas generasi, masyarakat menyampaikan penghormatan, restu, sekaligus penanda bahwa tamu diterima dengan tangan terbuka dan hati yang lapang.
Makna itulah yang menjadikan Mopotilolo lebih daripada sekadar seremoni. Tradisi tersebut menjelma sebagai titian budaya yang merangkai hubungan antardaerah, mempererat tali persaudaraan, dan memperkokoh semangat kebangsaan di tengah keberagaman yang dimiliki Indonesia.

Rangkaian penyambutan berlangsung dalam suasana yang teduh dan penuh kehangatan. Selepas prosesi adat, para tamu mengikuti jamuan makan malam yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Kehangatan pertemuan semakin terasa melalui suguhan kesenian daerah yang menampilkan warna-warni budaya Gorontalo, menghadirkan nuansa yang akrab sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi setempat kepada para tamu.
Mahyunadi mengaku memperoleh kesan mendalam atas penghormatan yang diberikan masyarakat Gorontalo melalui prosesi adat tersebut.
“Saya merasa terhormat dan bersyukur bisa disambut dengan adat Mopotilolo. Ini bukan hanya penghormatan kepada pribadi atau jabatan, tetapi juga bentuk penghormatan kepada masyarakat Kutai Timur yang saya wakili,” ujarnya.
Menurut Mahyunadi, penyambutan adat semacam itu memiliki nilai yang jauh melampaui formalitas. Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan fisik, tradisi menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan infrastruktur, melainkan juga dari kemampuan menjaga jati diri budaya yang menjadi penyangga karakter bangsa. Ia pun mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan masyarakat adat yang tetap merawat warisan budaya tersebut sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
“Kalau kita datang ke daerah lain lalu disambut seperti keluarga sendiri, tentu ada rasa persaudaraan yang terbangun. Ini yang membuat Indonesia tetap kuat, karena walaupun berbeda daerah dan budaya, kita tetap satu keluarga besar,” ungkapnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, pertemuan para kepala daerah dalam suasana kekeluargaan itu menyimpan makna strategis. Di balik rangkaian agenda resmi, terbuka ruang percakapan yang memungkinkan para pemimpin daerah saling bertukar pengalaman, berbagi praktik baik, serta menjalin jejaring kerja sama yang berpotensi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Forum informal yang terbangun melalui interaksi semacam itu kerap menghadirkan pertukaran gagasan yang lebih cair. Beragam pengalaman pembangunan dapat dibagikan, mulai dari pengembangan sektor pertanian, peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan ekonomi kerakyatan, hingga upaya menjaga harmoni sosial dan kelestarian budaya di masing-masing daerah.
Bagi Kabupaten Kutim, momentum tersebut menjadi kesempatan berharga untuk memperluas jejaring antardaerah sekaligus membuka peluang kolaborasi yang dapat mendukung pembangunan di masa mendatang. Terlebih, kehadiran para kepala daerah di Gorontalo bertepatan dengan penyelenggaraan PENAS KTNA XVII, sebuah forum nasional yang menjadi wahana pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan inovasi di bidang pertanian serta ketahanan pangan.
Di tengah perjumpaan yang dibingkai adat dan kebudayaan, tersirat pesan bahwa pembangunan tidak selalu lahir dari ruang rapat yang formal. Kadang kala, gagasan besar bersemi dari percakapan hangat yang berlangsung dalam suasana penuh persaudaraan. Karena itulah, Mahyunadi menilai pertemuan antardaerah semacam ini tidak boleh dipandang sebagai rangkaian acara seremonial semata.
“Pertemuan seperti ini jangan dilihat hanya sebagai acara seremonial. Justru di sinilah kesempatan kita saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan belajar dari keberhasilan daerah lain untuk diterapkan di daerah masing-masing,” katanya.
Di Gorontalo, melalui Mopotilolo, budaya tidak hanya hadir sebagai warisan masa lampau. Ia menjadi penghubung antarmanusia, perekat antardaerah, sekaligus peneguh persatuan di tengah keberagaman Nusantara yang terus bergerak menuju masa depan. (kopi4/kopi3)






























