Pentas Seni dan Budaya Topeng Ireng Pemuda Rimba Kaliorang. Foto: Awal/ Pro Kutim
KALIORANG — Seni dan budaya kembali menjadi ruang yang menyatukan masyarakat di Kecamatan Kaliorang. Di bawah langit malam yang cerah, ratusan warga dari permukiman SP 1 hingga SP 5 memadati Lapangan Sepak Bola Bumi Jaya, Desa Bangun Jaya, Minggu (26/7/2026), untuk menyaksikan Pentas Seni dan Budaya Topeng Ireng Pemuda Rimba.
Digelar secara gratis bagi masyarakat, pentas seni tahunan tersebut menghadirkan kolaborasi Pemuda Rimba dengan grup kesenian Rampak Buto Manunggal serta Jaranan Putro Alap-Alap. Alunan musik tradisional, hentakan gamelan, serta atraksi seni budaya membuat suasana malam semakin semarak.
Tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, kegiatan tersebut juga menghadirkan ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk menjajakan berbagai produk dan kuliner kepada masyarakat yang hadir.

Acara yang dihelat untuk masyarakat ini terasa kian istimewa dengan hadirnya Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman, Anggota DPRD Kutim Ardiansyah, Plt Camat Kaliorang Pitriani, Kepala Desa Bangun Jaya Supanjen, unsur Forkopimcam (Danramil dan Kapolsek), Korwil Pendidikan, serta perwakilan manajemen PT Indexim Coalindo dan PT KPP yang turut mendukung suksesnya acara.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang sekaligus membuka acara secara resmi mengapresiasi konsistensi Paguyuban Pemuda Rimba di bawah pimpinan Zainal dalam menjaga dan menghidupkan seni budaya di tengah masyarakat sejak 2016.
“Bapak, Ibu senang enggak setiap tahun Pemuda Rimba tampil seperti ini? Gratis atau bayar?” tanya Bupati yang langsung disambut riuh jawaban warga, “Senang! Gratis!”
Menurut Ardiansyah, keberagaman suku dan budaya yang dimiliki Kutim merupakan kekayaan yang harus terus dirawat. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen memberikan ruang bagi berbagai tradisi dan kesenian masyarakat untuk tumbuh dan tampil di tengah publik.

“Setiap wilayah memiliki ciri khas budaya. Di Kutai Timur, kita tidak hanya menjaga budaya lokal, tetapi juga memberikan ruang seluas-luasnya bagi keberagaman tradisi masyarakat untuk tampil,” ujarnya.
Ia menegaskan, kegiatan seni dan budaya tidak semata-mata menjadi hiburan bagi masyarakat. Di balik setiap pertunjukan, terdapat ruang interaksi sosial sekaligus peluang untuk menggerakkan ekonomi warga.
“Agenda tahunan seperti ini bukan sekadar hiburan. Ketika warga keluar rumah, UMKM bergerak, perputaran ekonomi terjadi. Jadi, seni dan budaya juga dapat menjadi bagian dari penggerak ekonomi kerakyatan,” kata Ardiansyah.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Kepala Desa Bangun Jaya, Supanjen. Ia menyebut kegiatan seni dan budaya yang digelar secara rutin memiliki dampak yang lebih luas bagi masyarakat, karena mampu mempertemukan warga dari berbagai wilayah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

“Acara seperti ini bukan hanya untuk hiburan. Masyarakat berkumpul, pelaku UMKM juga mendapatkan kesempatan untuk berjualan. Jadi, kegiatan budaya ini memberikan manfaat bagi banyak pihak,” ujar Supanjen.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kutim yang terus memberikan perhatian terhadap pembangunan dan kemajuan Desa Bangun Jaya.

Menurutnya, dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam mendorong desa agar terus berkembang, termasuk melalui kegiatan-kegiatan yang memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Desa ini terus berkembang. Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan pemerintah daerah. Harapan kami, pembangunan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dapat terus berlanjut,” ungkapnya.

Kemeriahan malam itu semakin terasa ketika para seniman mulai tampil. Gerakan energik dan magis dari tarian Topeng Ireng, atraksi Rampak Buto Manunggal, hingga penampilan Jaranan Putro Alap-alap berhasil menyedot perhatian warga.
Di tengah riuh tepuk tangan penonton, seni budaya kembali menunjukkan perannya sebagai ruang bersama. Ia bukan hanya warisan yang dipertahankan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial, membuka ruang ekonomi, dan menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap identitas budaya di daerahnya.(kopi8/kopi13)

































