Beranda Kutai Timur Panggung Budaya dari Kaliorang Imbangi Modernisasi

Panggung Budaya dari Kaliorang Imbangi Modernisasi

73 views
0

Teks foto: Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menghadiri Pentas Seni Budaya Pemuda Rimba Desa Bangun Jaya, Kecamatan Kaliorang. (Vian Pro Kutim)

SANGATTA – Malam di Desa Bangun Jaya, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Minggu, (26/7/2026) malam, tidak hanya menjadi peristiwa hiburan bagi warga. Di tengah derasnya perubahan zaman dan penetrasi teknologi yang kian merasuk ke berbagai sendi kehidupan, panggung yang digelar Pemuda Rimba Bangun Jaya itu menjelma ruang perjumpaan antara generasi muda, kebudayaan, dan ingatan tentang akar identitas.

Ratusan warga datang menyaksikan Pentas Seni Budaya Pemuda Rimba Bangun Jaya. Di atas panggung, seni tradisional dipertunjukkan dengan gairah yang lahir dari desa. Salah satu yang menyedot perhatian adalah Tari Topeng Ireng dari Magelang, Jawa Tengah, yang berpadu dengan musik tradisional. Pentas itu dihadiri Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Plt Camat Kaliorang Pitriani, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), tokoh masyarakat, serta Kepala Desa Bangun Jaya Supanjen.

Di antara riuh penonton dan denting musik tradisional, terselip pesan yang lebih dalam, kebudayaan tidak akan bertahan jika hanya disimpan sebagai kenangan. Ia harus dihidupkan, dipraktikkan, dan diperkenalkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Pentas Seni Budaya Pemuda Rimba Bangun Jaya menjadi salah satu contoh bahwa ikhtiar merawat kebudayaan dapat bersemi dari ruang yang paling dekat dengan masyarakat. Desa menjadi panggungnya, pemuda menjadi penggeraknya, sementara warga menjadi bagian dari denyut kehidupan kebudayaan itu sendiri.

Bagi generasi muda, kegiatan semacam ini bukan hanya perkara tampil di atas panggung. Ada proses panjang yang menyertainya. Latihan, pembagian peran, menyiapkan perlengkapan, membangun panggung, hingga memastikan pertunjukan berjalan sebagaimana mestinya. Dari proses tersebut tumbuh nilai tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama, keberanian, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi inisiatif Pemuda Rimba Bangun Jaya yang sejak 2015 telah menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda untuk mengekspresikan kecintaan terhadap budaya. Menurut Ardiansyah, kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi merupakan bagian dari perubahan yang tidak dapat dihindari. Namun, kemajuan tersebut semestinya tidak membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya.

“Anak-anak muda boleh mengikuti perkembangan zaman, menguasai teknologi, dan belajar dari budaya mana pun. Tetapi jangan sampai kita kehilangan jati diri. Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, saling menghormati, sopan santun, dan cinta terhadap budaya sendiri harus tetap dijaga. Kalau itu tetap hidup, saya yakin generasi kita akan tumbuh menjadi generasi yang kuat,” ujar Ardiansyah.

Ia mengatakan pembangunan Kutim tidak cukup hanya diukur dari kemajuan fisik. Ada dimensi sosial dan kebudayaan yang perlu tetap dirawat agar kemajuan tidak kehilangan ruhnya.

“Kita ingin Kutai Timur maju, tetapi kemajuan itu harus tetap berpijak pada budaya dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu. Jangan sampai kita maju secara fisik, tetapi kehilangan rasa kebersamaan, kepedulian, dan semangat saling menghargai yang menjadi kekuatan masyarakat kita,” katanya.

Ardiansyah menilai kegiatan seni dan budaya dapat menjadi salah satu bentuk pendidikan karakter yang efektif. Anak-anak muda tidak hanya belajar mengenai kesenian, tetapi juga menjalani proses yang menempa kepribadian. Dalam latihan, misalnya, mereka belajar menepati waktu dan bertanggung jawab terhadap peran masing-masing. Dalam pementasan, mereka belajar bekerja sebagai satu kesatuan. Di tengah perbedaan latar belakang, mereka belajar saling menghargai. Sementara keberanian tampil di hadapan publik menjadi pengalaman tersendiri yang dapat membentuk kepercayaan diri.

Nilai-nilai itu, menurut Ardiansyah, merupakan bekal yang penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan kehidupan pada masa mendatang.

Bagi Pemuda Rimba Bangun Jaya, menjaga kebudayaan juga berarti menjaga kesinambungan pengetahuan antargenerasi. Ketua Pemuda Rimba Bangun Jaya Zainal mengatakan pentas seni tersebut berangkat dari kesadaran bersama bahwa kebudayaan hanya akan terus hidup apabila dipraktikkan dan diperkenalkan kepada generasi penerus.

“Kami ingin anak-anak muda tidak hanya mengenal budaya dari cerita atau media sosial, tetapi juga ikut merasakan, memainkan, dan melestarikannya. Kalau bukan kami yang menjaga mulai sekarang, siapa lagi yang akan meneruskannya nanti,” ujarnya.

Persiapan pentas pun tidak berlangsung sekejap. Para pemuda bersama masyarakat bergotong royong mempersiapkan kegiatan tersebut. Bagi Zainal, proses tersebut memiliki makna yang tak kalah penting dibandingkan pertunjukan yang akhirnya disaksikan warga.

“Anggota Pemuda Rimba ini ada 52 orang. Masing-masing dengan talenta mereka. Yang kami bangun bukan hanya acara semalam, tetapi semangat kebersamaan. Saat latihan, menyiapkan panggung, sampai acara berlangsung, semua saling membantu. Persiapannya bisa sampai tiga bulan. Itu juga bagian dari budaya yang ingin kami jaga. ” katanya.

Ada manfaat lain yang tumbuh dari kegiatan kebudayaan semacam itu. Ketika ratusan orang berkumpul, geliat ekonomi masyarakat ikut bergerak. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang makanan, serta usaha kecil lainnya memperoleh ruang untuk menawarkan produk dan dagangan mereka kepada pengunjung. Dengan demikian, panggung kebudayaan tidak berhenti sebagai tontonan. Ia juga dapat menjadi ruang interaksi ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Di sisi lain, perhelatan tersebut mempertemukan warga dengan latar belakang suku dan kebudayaan yang beragam. Kutim, dengan masyarakatnya yang multikultural, membutuhkan ruang-ruang perjumpaan semacam itu. Seni menjadi semacam lingua franca (bahasa pergaulan bersama) yang dapat menjembatani perbedaan, merajut persaudaraan, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah tempat mereka hidup.

Dari Desa Bangun Jaya, kebudayaan menunjukkan wajahnya yang sederhana sekaligus berdaya. Tidak harus selalu lahir dari gedung pertunjukan megah atau festival berskala nasional. Ia dapat tumbuh dari halaman desa, dari tangan para pemuda, dari kerja sukarela masyarakat, dan dari kesediaan untuk menjaga apa yang diwariskan para pendahulu. Pentas Seni Budaya Pemuda Rimba Bangun Jaya menjadi penanda bahwa modernisasi dan kebudayaan tidak harus dipertentangkan. Teknologi dapat dikuasai, perubahan zaman dapat diikuti, tetapi jati diri tetap mesti dipelihara. Di tengah laju zaman yang serba lekas, panggung di Kaliorang itu mengirim pesan yang sederhana. Kemajuan akan terasa lebih bermakna apabila manusia tidak kehilangan akar yang membuatnya mengenali siapa dirinya. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini