Beranda Kutai Timur Dua Jejak Budaya Kutai Timur Menapak Kalender Event Kaltim 2026

Dua Jejak Budaya Kutai Timur Menapak Kalender Event Kaltim 2026

209 views
0

SANGATTA – Di tengah upaya panjang merawat ingatan kolektif dan denyut tradisi, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menegaskan posisinya dalam lanskap kebudayaan Kalimantan Timur (Kaltim). Dua perhelatan budaya, Festival Lom Plai dan Festival Sekerat, resmi masuk dalam 20 event unggulan Calendar of Event (COE) Provinsi Kaltim tahun 2026. Penetapan itu menjadi penanda bahwa tradisi yang tumbuh dari rahim masyarakat lokal masih beroleh ruang di tengah arus zaman.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim Akhmad Rifanie, menyebutkan pengusulan dua festival tersebut dilakukan setelah Pemprov Kaltim meminta setiap kabupaten dan kota menyampaikan agenda yang rutin digelar serta memiliki kesiapan dari sisi perencanaan hingga anggaran.

“Kami mengusulkan dua event unggulan kepada Provinsi Kaltim untuk masuk dalam calendar of event (COE),” kata Akhmad Rifanie di Sangatta, Senin (19/1).

Pengumuman itu disampaikan bersamaan dengan peluncuran 20 event unggulan Kaltim. Dari Kutim, dua nama itulah yang tercantum.

“Pada saat launching 20 event unggulan Kaltim kemarin, yang masuk dari Kutai Timur adalah Festival Lom Plai dan Festival Sekerat,” ujarnya kembali menegaskan.

Rifanie menjelaskan, pemilihan dua agenda budaya tersebut tidak dilakukan secara serampangan. Pemerintah daerah mempertimbangkan konsistensi pelaksanaan, kesiapan pembiayaan, serta akar tradisi yang masih hidup dan dijaga oleh masyarakat. Festival Lom Plai di Kecamatan Muara Wahau dijadwalkan berlangsung pada April 2026, sementara Festival Sekerat di Kecamatan Bengalon digelar pada Juli tahun yang sama.

“Pemilihan dua event ini didasarkan pada kesiapan anggaran dan konsistensi pelaksanaannya, serta nilai budaya yang kuat dan masih hidup di tengah masyarakat,” jelas Rifanie.

Menurut dia, kedua festival itu bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan cerminan warisan kultural yang diwariskan lintas generasi. Di dalamnya berkelindan ritus, ekspresi seni, serta tata nilai yang membentuk identitas masyarakat Kutim.

Rifanie tidak menampik bahwa masih terdapat sejumlah agenda budaya dan pariwisata lain di Kutim yang berpotensi diangkat ke panggung lebih luas. Namun, keterbatasan kepastian anggaran membuat pemerintah daerah harus bersikap selektif.

“Ada event-event budaya lain yang ingin kami masukkan, tapi karena kepastian anggarannya belum ada, sementara ini baru dua event tersebut yang bisa dipastikan,” ucapnya.

Meski demikian, Dispar Kutim telah memetakan berbagai event yang diselenggarakan di daerah, berskala kabupaten, provinsi, maupun nasional. Salah satu yang terus diperjuangkan ialah Festival Lom Plai agar kembali masuk dalam Karisma Event Nasional (KEN) 2026 yang dikelola Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

“Kalau sudah masuk event nasional. Otomatis kementerian pasti membantu promosi dan publikasi, agar banyak wisatawan yang datang ke Kutai Timur,” katanya.

Bagi Kutim, masuknya Festival Lom Plai dan Festival Sekerat ke dalam kalender event provinsi bukan sekadar capaian administratif. Ia menjadi ikhtiar menjaga denyut kebudayaan agar tetap bernapas, sekaligus jembatan mempertemukan tradisi lokal dengan khalayak yang lebih luas. Dari tingkat provinsi hingga nasional. Di sanalah budaya tidak hanya dipamerkan, tetapi dirawat sebagai ingatan hidup yang terus menyala. (*/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini