Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bersama Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dalam Safari Ramadan di Masjid Al Faruq. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Hangatnya ukhuwah menyertai kunjungan kerja Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, saat menyambangi titik pusat religi Kutai Timur (Kutim), Masjid Agung Al Faruq, Bukit Pelangi, pada Selasa (24/2/2026) malam. Kehadiran orang nomor satu di Benua Etam ini menjadi puncak rangkaian agenda produktif setelah sebelumnya meresmikan infrastruktur vital di wilayah pesisir.
Kedatangan Gubernur beserta rombongan disambut langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi. Turut hadir jajaran Forkopimda, tokoh lintas agama, serta ratusan jemaah yang memadati masjid dalam suasana penuh khidmat yang diawali dengan lantunan salawat nabi.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremoni. Sebelumnya, pada pagi hingga sore hari, Gubernur Rudy Mas’ud telah menuntaskan misi pembangunan dengan meresmikan jembatan penghubung Kecamatan Kaubun dan Sangkulirang yaitu Jembatan Nibung. Jembatan ini menjadi urat nadi baru yang menghubungkan poros Kutim-Berau, yang diproyeksikan bakal memacu akselerasi ekonomi di wilayah utara.
Dalam sambutannya, Bupati Ardiansyah Sulaiman menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian Pemerintah Provinsi terhadap pembangunan di Kutim.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Kutim, kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Gubernur. Kehadiran beliau bukan hanya membawa agenda pembangunan fisik, tetapi juga keberkahan melalui silaturahmi di bulan suci ini,” ungkap Ardiansyah.

Bupati juga menambahkan momentum kunjungan ini menjadi katalisator bagi percepatan program-program strategis lainnya di masa depan.
“Melalui perpaduan antara pembangunan infrastruktur (fisik) dan penguatan silaturahmi (spiritual), diharapkan Kutim semakin maju dalam bingkai kebersamaan,” tegasnya.
Apresiasi juga mengalir bagi kekompakan unsur Forkopimda Kutim dan Provinsi, mulai dari jajaran TNI, Polri, Kejaksaan, hingga instansi vertikal seperti Kementerian Agama dan Baznas. Kehadiran para pemangku kebijakan ini dinilai sebagai simbol kuatnya dukungan terhadap pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai religius.(kopi15/kopi13/kopi3)





























