Damkarmat Kutim saat melakukan edukasi terkait menghadapi kebocoran atau kebakaran tabung gas.Foto: Habibah/Pro Kutim
SANGATTA – Mitigasi bencana kebakaran akibat kebocoran gas di lingkup rumah tangga terus diperkuat. Selain menyasar anak usia dini, edukasi penanganan keadaan darurat kini mulai diintensifkan bagi para orangtua guna meminimalkan risiko fatalitas di lingkungan permukiman.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memanfaatkan momentum outing class TK Negeri Pembina untuk memberikan simulasi praktis kepada para wali murid di halaman depan Kantor Dinas Damkarmat Kutim, Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bunda PAUD Kutim Siti Robiah Ardiansyah dan Kepala Dinas Damkarmat Kutim Failu.
Staf Bidang Pencegahan Damkarmat Kutim, Rusdi, menekankan bahwa kunci utama dalam menghadapi kebocoran atau kebakaran tabung gas adalah ketenangan. Menurut dia, kepanikan sering kali menjadi pemicu kesalahan langkah yang justru memperluas skala kebakaran.

“Langkah pertama adalah segera melepaskan regulator dari tabung gas. Jika memungkinkan, bawa tabung ke ruang terbuka dengan sirkulasi udara yang baik,” ujar Rusdi di hadapan para peserta.
Dalam simulasinya, petugas mendemonstrasikan pemadaman api menggunakan alat sederhana yang tersedia di rumah, seperti kain atau handuk basah. Teknik ini bertujuan untuk memutus suplai oksigen (smothering) pada titik api.

Rusdi menjelaskan, jika api muncul pada area tabung, warga harus segera menutupnya dengan kain basah atau karung goni. Setelah api mengecil, regulator baru dilepaskan secara perlahan. Namun, ia memberikan catatan kritis terkait keamanan personel.
“Jika suhu tabung sudah terasa panas, jangan sekali-kali mencoba memindahkannya. Fokus pada pemadaman di tempat dan pastikan ventilasi rumah terbuka lebar agar gas tidak terjebak di dalam ruangan yang bisa memicu ledakan,” tegasnya.

Apabila situasi tidak kunjung terkendali, masyarakat diminta tidak menunda untuk menghubungi layanan darurat pemadam kebakaran.
Kepala Dinas Damkarmat Kutim, Failu, menyampaikan bahwa edukasi kepada orangtua murid merupakan pilar penting dalam strategi pencegahan kebakaran daerah. Ia menilai, orangtua khususnya ibu rumah tangga adalah lini terdepan yang paling sering bersentuhan dengan potensi bahaya di dapur.
“Pemahaman mengenai langkah awal penanganan dapat meminimalisir risiko sebelum api menjalar lebih besar. Kami ingin membangun budaya sadar keselamatan yang dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga,” kata Failu.

Bunda PAUD Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor ini. Menurutnya, outing class yang biasanya hanya berfokus pada keceriaan anak, kini memberikan nilai tambah berupa pengetahuan praktis bagi orangtua.
Melalui kegiatan ini, diharapkan risiko kebakaran akibat kelalaian atau ketidaktahuan prosedur penanganan gas di Kutim dapat ditekan secara signifikan.(kopi10/kopi13)

































