Feftin saat mengikuti Latsar CPNS Kutim sesi terakhir.Foto: Istimewa
SANGATTA – Lorong Gedung Belajar BKPSDM Kutai Timur (Kutim), Jumat (8/5/2026) pagi, tak seperti biasanya. Heningnya terasa berat, sesekali pecah oleh helaan napas panjang dari wajah-wajah yang tampak tegang. Di sana, 43 peserta Latsar CPNS Angkatan 117 sedang mempertaruhkan hasil kerja keras mereka sejak Februari lalu dalam sebuah seminar aktualisasi.
Namun, di tengah keriuhan dokumen dan proyektor, ada satu sosok yang mencuri perhatian. Feftin, peserta asal Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, duduk dengan tenang meski perutnya sudah sangat membuncit. Ia berada di trimester akhir kehamilan, sebuah fase di mana kebanyakan ibu mungkin memilih untuk beristirahat di rumah.
Bagi Feftin, hari itu bukan sekadar ujian formalitas. Ini adalah gerbang menuju status PNS 100 persen yang ia impikan.
Ketegangan di ruang ujian rupanya tak hanya dirasakan oleh pikiran Feftin. Sang jabang bayi dalam kandungannya seolah ikut “merasakan” adrenalin sang ibu. Saat presentasi berlangsung di hadapan penguji dari BPSDM Provinsi Kaltim, tubuhnya memberikan sinyal alami. Feftin diketahui telah mengalami pembukaan tiga sebuah tanda awal persalinan yang nyata.
“Rasanya tegang dan gugup sekali saat presentasi, sampai terbawa ke kandungan,” ungkapnya dengan binar mata yang sulit diartikan antara menahan sakit dan rasa syukur yang meluap.
Meski harus berjuang menghadapi kontraksi di tengah tekanan ujian, Feftin tak luntur semangat. Baginya, momen ini adalah perjalanan emosional yang magis. Di satu sisi, ia sedang menuntaskan kewajiban profesionalnya sebagai abdi negara, dan di sisi lain, ia sedang menanti kelahiran buah hati yang telah lama ia rindukan.
Keberanian Feftin menjadi potret kontras di antara 214 peserta Latsar tahun 2026 ini. Jika peserta lain hanya mengkhawatirkan revisi dari mentor atau pertanyaan tajam dari penguji, Feftin harus bernegosiasi dengan waktu dan fisiknya sendiri.

Hingga jarum jam menunjukkan berakhirnya sesi ujian, raut lega akhirnya terpancar. Seminar aktualisasi yang melelahkan itu berhasil ia lewati. Kini, Feftin dan rekan-rekannya hanya tinggal menunggu hari Rabu mendatang hari di mana rangkaian Latsar resmi ditutup.
Bagi masyarakat mungkin ini hanya tentang pengukuhan status pegawai. Namun bagi Feftin, kelulusan nanti akan menjadi kado terindah yang bisa ia persembahkan untuk calon bayinya, sebuah bukti bahwa perjuangan menjadi abdi negara dan perjuangan menjadi seorang ibu bisa berjalan beriringan dalam satu napas perjuangan yang sama.(kopi17/kopi13/kopi3)






























