Beranda Keagamaan Ribuan Warga Padati Masjid Agung Al Faruq, Iduladha Perkuat Semangat Kepedulian Sosial

Ribuan Warga Padati Masjid Agung Al Faruq, Iduladha Perkuat Semangat Kepedulian Sosial

64 views
0

Bupati Ardiansyah saat sampaikan sambutan di Hari Raya Iduladha. Foto : Nami dan Nasruddin/Pro Kutim

SANGATTA – Gema takbir yang bersahut-sahutan sejak pagi merekah di ruang utama hingga pelataran Masjid Agung Al Faruq, Komplek Islamic Center Sangatta di Bukit Pelangi, Sangatta Utara, Selasa (27/5/2026). Ribuan warga datang berduyun-duyun untuk menunaikan Salat Iduladha 1447 Hijriah. Di tengah suasana yang teduh dan khusyuk itu, Hari Raya Kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritus ibadah tahunan, melainkan juga suluh (pelita) pengingat tentang keikhlasan, kepedulian sosial, dan daya tahan masyarakat menghadapi tekanan hidup yang kian berlapis.

Momentum Iduladha tahun ini terasa lekat dengan denyut keseharian warga. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan ekonomi rumah tangga, hingga tantangan sosial yang terus berubah, semangat berbagi melalui kurban menjadi penanda bahwa gotong royong belum lekang dari kehidupan masyarakat. Bupati Ardiansyah Sulaiman hadir bersama keluarga dalam pelaksanaan Salat Iduladha tersebut.

Dalam sambutannya di hadapan jemaah, ia menegaskan bahwa gema takbir semestinya tidak berhenti sebagai lantunan syiar, tetapi juga menjadi pengingat untuk mempererat ukhuwah dan menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Gema takbir yang berkumandang hari ini mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT sekaligus mengajak kita untuk semakin mempererat ukhuwah, memperkuat kepedulian terhadap sesama, dan menumbuhkan semangat berbagi di Kutim,” katanya.

Suasana di masjid pagi itu memperlihatkan bagaimana Iduladha masih menjadi ruang perjumpaan sosial yang kuat. Anak-anak berjalan di samping orang tua mereka, para lansia duduk bersaf (baris salat) dengan tenang, sementara jemaah lain memenuhi serambi hingga halaman masjid. Tak sedikit warga yang datang sejak subuh demi memperoleh tempat di ruang utama.

Ardiansyah juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang tetap menjaga semangat berkurban di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya ringan. Menurutnya, solidaritas sosial menjadi salah satu penopang penting dalam menghadapi tekanan kehidupan yang dirasakan masyarakat saat ini.

“Nilai kebersamaan dan gotong royong inilah yang menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, termasuk tekanan ekonomi yang saat ini dirasakan,” ujarnya.

Di balik pelaksanaan ibadah kurban, terdapat denyut ekonomi rakyat yang ikut bergerak. Aktivitas jual beli hewan kurban memberi ruang penghidupan bagi peternak lokal, pedagang, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga pekerja distribusi dan pengolahan daging. Perputaran ekonomi itu, meski berlangsung musiman, menjadi bagian penting dari sirkulasi ekonomi masyarakat bawah. Karena itu, Ardiansyah mengajak warga menjadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat ekonomi kerakyatan dengan mendukung peternak serta produk lokal.

“Oleh karena itu, semangat Iduladha harus menjadi momentum untuk memperkuat ekonomi kerakyatan, mendukung produk dan peternak lokal, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat secara bersama-sama,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, doa bersama juga dipanjatkan untuk 171 jemaah haji asal Kutim yang tengah menunaikan ibadah di Tanah Suci. Di tengah khidmatnya suasana, doa-doa melangit agar seluruh jemaah diberikan kesehatan dan keselamatan selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, serta kelancaran dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji. Semoga mereka menjadi haji dan hajjah yang mabrur dan mabrurah serta kembali ke tanah air dengan selamat dan penuh keberkahan,” katanya.

Sementara itu, khatib Salat Iduladha, Ketua Ikadi Kutim Ustaz Syamsuri, mengangkat khutbah bertema “Iduladha Membangun Kepedulian dan Persatuan Umat”. Dalam khutbahnya, ia mengingatkan bahwa esensi kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan, tetapi juga ihwal kemampuan manusia menundukkan ego dan kepentingan pribadi demi menjaga harmoni sosial.

“Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga bagaimana kita mampu mengorbankan ego, rasa iri, dan kepentingan pribadi demi terciptanya persatuan dan keharmonisan umat,” ujar Syamsuri.

Menurutnya, masyarakat akan tetap kukuh menghadapi perubahan zaman apabila semangat kepedulian dan persatuan terus dipelihara. Nilai-nilai itu, kata dia, merupakan penyangga penting kehidupan sosial yang damai dan penuh keberkahan.

“Jika semangat kepedulian dan persatuan terus kita jaga, maka masyarakat akan semakin kuat, harmonis, dan mampu menghadirkan keberkahan dalam kehidupan bersama,” pungkasnya.

Perayaan Iduladha di Sangatta tahun ini akhirnya tidak hanya menjadi penanda hari besar keagamaan, tetapi juga cermin tentang bagaimana masyarakat menjaga simpul kebersamaan di tengah tantangan ekonomi dan sosial yang terus bergerak. Di antara gema takbir, saf-saf salat, dan semangat berbagi daging kurban, terselip keyakinan bahwa solidaritas masih menjadi penyangga utama kehidupan warga. (kopi14/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini