Talkshow Peternakan yang digagas STIPER Kutim mengangkat tema “Kaya Lahan, Miskin Peternak?” sebagai ruang kolaborasi membangun masa depan pangan daerah. Foto: Istimewa.
SANGATTA – Di tengah bentangan lahan yang luas dan potensi agraria yang melimpah, pertanyaan yang tersirat dalam tema talkshow “Kaya Lahan, Miskin Peternak?” menjadi bahan renungan bersama. Pertanyaan itu pula yang mengemuka dalam Talkshow Peternakan yang digagas mahasiswa Program Studi Peternakan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur (Kutim) di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim, Selasa (2/6/2026).
Forum tersebut tidak hanya menjadi arena bertukar gagasan, melainkan juga ruang temu berbagai pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pangan daerah. Hadir dalam kegiatan itu Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, Ketua DPRD Kutim Jimmi, Ketua STIPER Kutim Ismail Fahmy Ahmadi, Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Dyah Ratnaningrum, kalangan akademisi, mahasiswa, hingga pelaku usaha pertanian dan peternakan lokal.
Bagi Bupati Ardiansyah, forum yang diinisiasi STIPER Kutim tersebut memiliki arti strategis. Di tempat itulah pengalaman lapangan, hasil kajian akademik, kebijakan pemerintah, serta dinamika dunia usaha dapat dipertemukan dalam satu meja percakapan.
“Forum seperti ini sangat baik karena mempertemukan akademisi, pemerintah, petani, peternak, dan pelaku usaha. Dari sinilah lahir ide, pengalaman, dan solusi yang bisa diterapkan langsung di lapangan,” ujarnya.

Menurut Ardiansyah, ketahanan pangan tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak semata. Cita-cita besar itu memerlukan sinergi yang kukuh antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat. Karena itu, ia mengingatkan generasi muda agar tidak terlampau lama berkutat dalam tataran konsep. Gagasan, menurut dia, harus menjelma menjadi tindakan yang dapat dirasakan manfaatnya secara nyata.
“Jangan banyak wacana, tapi langsung praktek, action,” tegasnya yang disambut tepuk tangan peserta.
Pernyataan tersebut bukan sekadar nasihat. Ardiansyah membagikan pengalaman pribadinya ketika memasuki masa pensiun sekitar tahun 2016–2017. Saat itu ia memanfaatkan pekarangan rumah dengan membangun kolam terpal berisi sekitar 4.000 bibit ikan lele. Pada saat bersamaan, berbagai tanaman produktif seperti cabai, pisang, jeruk nipis, dan mangga turut dibudidayakan.
Meski menghadapi tantangan pemasaran, pengalaman itu memberinya pelajaran mengenai arti penting pemanfaatan ruang yang tersedia untuk menopang kebutuhan pangan keluarga. Bahkan air dan limbah kolam lele dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik bagi tanaman, menciptakan siklus produksi yang efisien dan bernilai guna.

Aktivitas serupa masih dijalankannya hingga kini di lingkungan rumah jabatan. Beragam ternak seperti ayam kampung, ayam petelur, dan angsa dipelihara berdampingan dengan tanaman produktif serta tanaman obat keluarga (toga).
Dalam kesempatan tersebut, Ardiansyah juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pelaku usaha dan kelompok masyarakat yang berhasil menghadirkan terobosan di sektor pangan. Salah satunya Vay Farm yang dikelola Ikhvani Wulandari. Usaha tersebut mampu mengembangkan pembibitan ayam melalui mesin tetas mandiri sekaligus membudidayakan maggot untuk memenuhi kebutuhan peternak lokal.
Penghargaan juga diberikan kepada kelompok Dasawisma PKK dan petani di Kampung Kajang yang berhasil mengembangkan pertanian hidroponik pada lahan terbatas. Berbagai ikhtiar itu, menurut Ardiansyah, menunjukkan bahwa keterbatasan ruang bukanlah alasan untuk berhenti berinovasi.
“Saya ingin Kutai Timur (Kutim) cepat muncul sebagai bagian dari daerah yang siap. Tidak hanya swasembada, tidak hanya mandiri, tetapi kita berharap dengan luasan lahan yang kita miliki mampu berdaulat di bidang pangan,” katanya.
Sementara itu, Ketua STIPER Kutim Ismail Fahmy Ahmadi menilai talkshow tersebut menjadi wahana penting untuk mempererat kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha. Menurutnya, Kutim memiliki modal yang sangat besar untuk berkembang menjadi salah satu sentra pertanian dan peternakan di Kalimantan Timur (Kaltim). Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki, kontribusi komoditas peternakan Kutim mencapai sekitar 15 ribu ekor sapi per tahun. Angka tersebut dilengkapi oleh produksi unggas dan komoditas hortikultura yang telah dipasarkan hingga Berau dan Samarinda. Namun di balik potensi itu, terdapat pekerjaan rumah yang tidak ringan. Ismail menyoroti masih rendahnya minat generasi muda untuk menekuni sektor peternakan.

“Minat anak muda terhadap dunia peternakan masih relatif rendah. Padahal sektor ini memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang. Ini menjadi tantangan bersama karena regenerasi peternak sangat menentukan masa depan ketahanan pangan kita,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik Kutim yang selama bertahun-tahun bertumpu pada sektor pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Banyak anak muda lebih tertarik bekerja pada kedua sektor tersebut karena dinilai mampu memberikan penghasilan yang lebih cepat dan stabil dibanding membangun usaha peternakan dari awal.
Di sisi lain, masih berkembang anggapan bahwa peternakan merupakan pekerjaan konvensional yang sarat kerja fisik dan memiliki keuntungan terbatas. Padahal, lanskap usaha peternakan telah berubah secara signifikan.
“Peternakan saat ini bukan sekadar memelihara ternak. Ada bisnis pembibitan, pengolahan pakan, budidaya maggot, pemasaran digital, hingga pengolahan hasil ternak yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ini peluang yang harus diperkenalkan kepada generasi muda,” jelasnya.

Karena itu, STIPER Kutim terus menghadirkan berbagai kegiatan akademik dan forum dialog yang membuka cakrawala mahasiswa terhadap prospek sektor peternakan modern. Harapannya, lahir generasi baru yang memandang peternakan bukan sebagai pilihan penghabisan, melainkan ruang ikhtiar yang menjanjikan bagi masa depan.
“Kami berharap anak-anak muda melihat peternakan bukan sebagai pilihan terakhir, tetapi sebagai peluang masa depan yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendukung ketahanan pangan daerah,” pungkasnya.
Pada akhirnya, forum tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui kebijakan, teknologi, atau ketersediaan lahan. Ia juga bertumpu pada kemauan untuk berjejaring, bertukar pengalaman, dan menumbuhkan keberanian untuk memulai. Dari ruang diskusi yang sederhana itulah, cita-cita menjadikan Kutai Timur sebagai daerah yang tidak hanya swasembada, melainkan juga berdaulat pangan, terus dirawat dan diperjuangkan bersama. (kopi4/kopi3)































