Beranda Pariwisata Keajaiban Goa Karst “Sampe Marta”, Tersembunyi di Belantara TNK

Keajaiban Goa Karst “Sampe Marta”, Tersembunyi di Belantara TNK

810 views
2

Menikmati sensasi wisata Goa Sampe Marta yang masih berada di kawasan hutan TNK. Beberapa pegiat alam dari Sangatta menyempatkan foto bersama dengan Pak Sampe (tengah). Foto: irfan/Pro Kutim

TELUK PANDAN – Goa ini kurang terdengar gaungnya dibandingkan goa-goa di pedalaman Kutai Timur (Kutim) yang menjadi gugusan pegunungan karst sangkulirang-mangkalihat seperti Goa Tewet, Mengkuris, Araraya, Rimba, Ampanas hingga lainnya. Goa Sampe Marta begitu namanya, justru aksesnya mudah didatangi karena dekat dengan ibu kota Kutim yakni Sangatta, tepatnya di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Desa Martadinata Kecamatan Teluk Pandan.

Nama Sampe Marta berasal dari penemu goa ini yakni seorang petani pendatang asal Kabupaten Tana Toraja (Tator) Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tahun 2016 yang merantau ke Kutim, sementara Marta dari nama desa itu sendiri. Lelaki tua berusia 73 tahun ini secara tidak sengaja menemukan goa yang masuk di dalam kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) itu ketika areal hutan terbakar.

“Saat itu puncak musim kemarau, terjadi kebakaran hutan besar yang membuat saya lari ke dalam hutan. Ketika itu juga ada petugas patroli yang datang ke rumah saya sekitar 50 orang, namun saya tidak berada di rumah. Saya takut jadi lari hingga akhirnya saya tersesat dan berada di sebuah goa batu karst besar yang menjulang tinggi di tengah lebatnya rimba hutan,” ucap Pak Sampe mengisahkan ingatannya saat ditemui Pro Kutim di kediaman rumah kebunnya yang berjarak sekitar 1 kilometer dari Jalan Poros Bontang-Sangatta beberapa waktu lalu.

Petani buah nanas ini pun terperanjat ketika berada di dalam goa. Selama seminggu ia bersembunyi di Goa Sampe Marta. Ia pun bertahan hidup dengan mencari sumber makanan di area sekitar goa.

Hingga kini, sudah sebagian para penggiat alam dan traveler dari Sangatta, Bontang dan luar Kutim sudah menikmati eksotisnya Goa Sampe Marta. Bahkan ada wisatawan dari mancanegara berasal dari Amerika Serikat dan Jerman.

“Ini goa milik semua, untuk dinikmati semua orang yang menyukai goa. Saya titip pesan sama-sama menjaga kelestarian Goa Sampe Marta,” terangnya.

Selanjutnya untuk pengembangan pengelolaan Goa Sampe Marta, ia meminta kepada pemerintah daerah dan instansi terkait bisa memberikan perhatian lebih agar keajaiban goa karst ini bisa digaungkan menjadi destinasi populer minat khusus.

“Semoga ada program nyata dari pemerintah daearah. Kutim itu surga karst yang dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa,” urainya.

Untuk menuju Goa Sampe Marta, pegiat alam harus berjalan kaki kurang lebih 1 jam untuk sampai di mulut goa. Titik awal perjalanan dimulai di sebuah gubuk kebun yang dikelilingi pohon pisang dan nanas. Trek berupa kontur tanah dengan jalan setapak turun naik perbukitan. Sekitar 2,5 kilometer etape yang harus dilalui, jika turun hujan harus waspada pasalnya licin. Lebatnya rerumputan juga menjadi hambatan menutup akses jalan. Disarankan tidak masuk saat malam hari karena bisa tersesat.

“Jalannya banyak cabang. Bagusnya masuk pagi ketika cuaca terang karena sudah ditandai beberapa pita yang dipasang di batang pohon sebagai penanda rute,” ucap Jun salah satu pegiat alam asal Bontang.

Barista kopi di salah satu kedai di kawasan Bukit Pelangi ini menceritakan pengalamannya yang sudah sering lalu lalang masuk ke Goa Sampe Marta. Jika dihitung sudah ada belasan menjelajah isi goa sekaligus camping (berkemah).

“Goa ini dekat dengan Sangatta dan Bontang, apalagi masuk di dalam kawasan TNK. Aksesnya mudah dan menjadi pilihan altenatif untuk wisata sekaligus penelitian edukasi goa bagi traveler maupun peneliti dibandingkan jika harus ke situs-situs goa di Kecamatan Bengalon, Kaliorang, Kongbeng hingga Karangan yang cukup menyita waktu,” ujarnya.

Jun juga membeberkan keunikan Goa Sampe Marta ini terdapat tiga mulut goa yang bisa dilihat. Titik pertama mirip di Goa Jomblang Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta yang begitu populer karena menjadi incaran penikmat goa. Dikatakan hampir sama karena ada celah lubang di atas yang memancarkan sinar matahari (rol) tegak lurus menjadi spot andalan fotografi dipadu dengan stalaktit dan stalagmit yang masih terjaga menghasilkan air. Kedua, titik celah goa yang dibawahnya ada batu karst menyerupai binatang gajah tengah duduk bersantai. Di sini, traveler akan disuguhkan pemandangan ciamik bebatuan karst menjulang tinggi yang menjadi habitat nyaman kelelawar. Terakhir, di buntut goa, terdapat lubang besar yang di bawahnya ada longsoran tanah. Menuju ke area ini, harus ekstra hati-hati karena rentan jatuh terpeleset karena tanah yang labil. Jika sudah sampai di bawah, akan dijumpai aliran air sungai karst yang mengalir deras dari hulu ke hilir.

“Total panjang goa ini diperkirakan mencapai ratusan meter. Saya harap Goa Sampe Marta ini menjadi tujuan wisata, khususnya adventure caving. Karena bentangan alamnya yang luar biasa dan tidak dimiliki daerah lain,” tutup Jun. (hms13/hms3)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here