Beranda Kutai Timur Dari Penas KTNA, Mahyunadi Serukan Regenerasi Petani, Pertanian Modern dan Produktif

Dari Penas KTNA, Mahyunadi Serukan Regenerasi Petani, Pertanian Modern dan Produktif

16 views
0

Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi bersama istri, Masriati, didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Noviari Noor serta Kepala DTPHP Dyah Ratnaningrum saat menghadiri Pameran Inovasi Produk Teknologi Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan pada PENAS KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Foto: Vian Pro

GORONTALO – Hamparan gagasan, teknologi, dan semangat pembaruan bertemu dalam Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Di tengah pertemuan ribuan petani, nelayan, penyuluh, akademisi, dan pelaku agribisnis dari berbagai penjuru Nusantara, satu pesan mengemuka dengan terang, masa depan ketahanan pangan Indonesia ditentukan oleh kemampuan sektor pertanian bertransformasi sejak hari ini. Tema yang diusung dalam ajang tiga tahunan tersebut, “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Hilirisasi dan Swasembada Pangan Berkelanjutan Menuju Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045”, bukan sekadar semboyan. Di dalamnya tersimpan agenda besar yang menuntut kesiapan seluruh daerah untuk memperkuat produktivitas, memperluas pemanfaatan teknologi, serta menyiapkan generasi penerus yang kelak menjadi penyangga pangan bangsa.

Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim), Mahyunadi, memandang PENAS KTNA XVII sebagai wahana pembelajaran yang bernilai strategis bagi daerah. Di sela rangkaian kegiatan yang diikutinya di Gorontalo, Sabtu (20/6/2026), ia menilai forum tersebut menghadirkan banyak pengetahuan baru yang dapat menjadi bekal bagi para petani dalam menghadapi tantangan masa depan.

Beragam produk teknologi pertanian dan hasil pangan dari berbagai perusahaan serta daerah di seluruh Nusantara dipamerkan dalam rangkaian kegiatan PENAS KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Foto: Vian Prokutim

“PENAS ini seperti ruang belajar bersama bagi petani. Banyak pengetahuan baru yang bisa didapat, mulai dari teknologi pertanian, peningkatan produktivitas tanaman, hingga berbagai inovasi yang dapat membantu petani meningkatkan hasil usahanya,” ujar Mahyunadi.

Menurutnya, kegiatan tersebut membuka kesempatan luas bagi petani dan nelayan untuk memahami arah kebijakan nasional, termasuk berbagai program strategis pemerintah yang berkaitan dengan ketahanan pangan, peningkatan produksi, serta pengembangan usaha tani yang berkelanjutan.

Beragam produk teknologi pertanian dan hasil pangan dari berbagai perusahaan serta daerah di seluruh Nusantara dipamerkan dalam rangkaian kegiatan PENAS KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Foto: Vian Prokutim

“Melalui kegiatan ini kita bisa mengetahui arah kebijakan nasional dan berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh petani maupun nelayan. Informasi seperti ini penting agar daerah bisa menyesuaikan langkah pembangunan sektor pertaniannya,” katanya.

Bagi Mahyunadi, salah satu pokok pikiran yang paling kuat mengemuka dalam forum nasional itu adalah ajakan kepada seluruh daerah untuk bersiap menghadapi target Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Target tersebut, menurutnya, tidak mungkin dicapai tanpa modernisasi sektor pertanian dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Intinya kita diminta bersiap menghadapi tantangan sekaligus peluang menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Untuk itu petani harus semakin maju, produktif, dan mampu memanfaatkan teknologi yang terus berkembang,” tegasnya.

Beragam produk teknologi pertanian dan hasil pangan dari berbagai perusahaan serta daerah di seluruh Nusantara dipamerkan dalam rangkaian kegiatan PENAS KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Foto: Vian Prokutim

Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan daerah. Kutim, yang berada relatif dekat dengan kawasan industri pupuk di Bontang, memiliki keuntungan geografis dalam mendukung distribusi sarana produksi pertanian. Mahyunadi menyambut baik berbagai langkah pemerintah pusat dalam memperkuat penyaluran pupuk kepada petani.

“Kita bersyukur karena berada dekat dengan pusat produksi pupuk. Penyaluran saat ini sudah cukup baik, tetapi tentu harapan kita ke depan bisa lebih lancar lagi sehingga kebutuhan petani benar-benar terpenuhi,” ujarnya.

Meski demikian, ia tidak menampik masih adanya sejumlah tantangan yang perlu dibenahi. Salah satunya berkaitan dengan regulasi penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih, serta berbagai bentuk dukungan pemerintah lainnya yang kerap memerlukan proses administrasi panjang.

Beragam produk teknologi pertanian dan hasil pangan dari berbagai perusahaan serta daerah di seluruh Nusantara dipamerkan dalam rangkaian kegiatan PENAS KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Foto: Vian Prokutim

“Komitmen daerah untuk membantu petani sangat besar. Namun masih ada beberapa regulasi yang membuat proses penyaluran bantuan membutuhkan waktu cukup lama. Ke depan tentu perlu ada penyelarasan agar bantuan bisa lebih cepat dirasakan oleh petani,” jelasnya.

Di tengah berbagai pembahasan mengenai teknologi dan kebijakan, Mahyunadi juga menyoroti isu yang tak kalah penting, yakni regenerasi petani. Baginya, keberlanjutan sektor pertanian bergantung pada hadirnya generasi muda yang bersedia melanjutkan estafet produksi pangan nasional.

Karena itu, kontingen KTNA Kutim turut mengikutsertakan lima petani muda dalam PENAS KTNA XVII. Langkah tersebut diharapkan menjadi ikhtiar untuk menumbuhkan minat kaum muda terhadap dunia pertanian yang kini semakin modern dan terbuka terhadap inovasi.

Beragam produk teknologi pertanian dan hasil pangan dari berbagai perusahaan serta daerah di seluruh Nusantara dipamerkan dalam rangkaian kegiatan PENAS KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Foto: Vian Prokutim

“Petani itu pekerjaan yang menyenangkan dan mulia. Kalau tidak ada petani, tidak ada pangan yang tersedia di meja kita. Dengan pengelolaan yang profesional, pemanfaatan alat modern, serta pendampingan yang baik, hasil yang diperoleh petani tidak kalah dengan profesi lainnya,” katanya.

Ia kembali menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam sektor ini. Dia menambahkan, sengaja mengajak generasi muda agar mereka melihat langsung bahwa pertanian memiliki masa depan yang cerah. Menurutnya, jika petani muda tidak tertarik pada sektor pertanian, lantas siapa yang akan melanjutkan tugas memproduksi pangan bagi masyarakat di masa mendatang?.

Pesan serupa disampaikan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, saat membuka PENAS KTNA XVII. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya memperkuat kemandirian pangan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, dan kebijakan tarif antarnegara yang dapat memengaruhi rantai pasok pangan dunia.

Beragam produk teknologi pertanian dan hasil pangan dari berbagai perusahaan serta daerah di seluruh Nusantara dipamerkan dalam rangkaian kegiatan PENAS KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Foto: Vian Prokutim

“Kita harus memperkuat kemandirian pangan nasional. Dalam situasi global yang penuh tantangan, Indonesia tidak boleh terlalu bergantung pada negara lain. Petani adalah garda terdepan kemandirian pangan bangsa,” tegas Gibran.

Menurutnya, pembangunan pertanian harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir, mencakup produksi, pengolahan, distribusi, pemasaran, hingga penciptaan nilai tambah yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Sementara itu, Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menyoroti pentingnya penyederhanaan regulasi agar pelayanan kepada petani berlangsung lebih cepat dan efektif. Ia menegaskan bahwa distribusi pupuk, termasuk pupuk bersubsidi, harus terus diperbaiki agar kebutuhan petani dapat terpenuhi tepat waktu.

“Regulasi harus sederhana dan birokrasi jangan berbelit-belit. Petani harus dipermudah dalam mendapatkan bantuan dan akses terhadap sarana produksi, termasuk pupuk bersubsidi,” ujar Amran.

Dalam forum yang sama, Menteri Pertanian juga mengingatkan mengenai meningkatnya alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan monokultur dalam skala besar. Fenomena tersebut dinilai berpotensi mengurangi luas lahan pangan nasional sekaligus membawa dampak terhadap perubahan iklim apabila tidak dikendalikan secara bijaksana.

Selain menjadi ruang perjumpaan gagasan dan inovasi, PENAS KTNA XVII juga menghasilkan keputusan penting. Melalui forum Rembug Utama yang digelar pada Jumat (19/6/2026), peserta secara aklamasi menetapkan Lampung sebagai tuan rumah PENAS KTNA XVIII Tahun 2029.

Antusiasme peserta pun menunjukkan besarnya perhatian terhadap masa depan pertanian Indonesia. Berdasarkan data panitia, Sulawesi Utara menjadi daerah dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 1.052 orang, disusul Sulawesi Tengah sebanyak 901 orang, dan Kalimantan Timur sebanyak 657 orang.

Di Gorontalo, pertemuan itu bukan hanya menyatukan ribuan insan pertanian dari seluruh Nusantara. Lebih dari itu, PENAS KTNA XVII menjadi penanda bahwa perjalanan menuju lumbung pangan dunia tidak semata ditentukan oleh luas lahan atau tingginya produksi, melainkan juga oleh kemampuan bangsa merawat pengetahuan, mempercepat inovasi, dan menyiapkan generasi penerus yang kelak menghidupi negeri melalui pangan. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini