Beranda Kutai Timur Hadapi El Niño, Warga Kutim Diimbau Hemat Air dan Waspada Karhutla

Hadapi El Niño, Warga Kutim Diimbau Hemat Air dan Waspada Karhutla

11 views
0

Suasana High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah yang dihadiri Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, bersama sejumlah dinas teknis terkait dalam mengantisipasi dampak El Niño. (Vian/Pro Kutim)

SANGATTA – Gelombang panas (heatwave, yakni peningkatan suhu udara secara ekstrem dalam kurun tertentu) yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi perkara yang jauh dari kehidupan masyarakat. Fenomena cuaca ekstrem kini dapat menjelma menjadi ancaman terhadap kesehatan, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, hingga kestabilan perekonomian apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Berkaca pada kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi fenomena El Niño yang diperkirakan memicu musim kemarau lebih panjang. Imbauan itu tidak hanya ditujukan untuk mencegah dampak kekeringan, tetapi juga menjaga ketersediaan pangan, mengendalikan inflasi, mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta memastikan kebutuhan air bersih tetap terpenuhi.

High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kutim yang berlangsung di Ruang Tempudau, Sekretariat Kabupaten, Senin (13/7/2026) fokus membahas persoalan dimaksud. Pertemuan itu mempertemukan unsur Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Perumdam Tirta Tuah Benua, serta organisasi perangkat daerah terkait.

Forum tersebut menjadi wadah menyelaraskan langkah lintas sektor agar kesiapsiagaan daerah tidak hanya bertumpu pada satu institusi, melainkan menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga ketahanan pangan, kestabilan harga kebutuhan pokok, pelayanan air bersih, serta mitigasi kebencanaan.

Bupati Kutkm Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa dinamika iklim global harus menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan daerah. Menurut dia, pemerintah tidak boleh menunggu hingga dampak El Niño benar-benar dirasakan masyarakat. Menurutnya perubahan kondisi alam global harus dijadikan dasar dalam menyusun langkah kesiapsiagaan di daerah.

“Kita harus melindungi hajat hidup masyarakat sebelum dampak buruknya meluas,” tegas Ardiansyah.

Ia menilai upaya pencegahan jauh lebih bernilai daripada penanganan setelah bencana terjadi. Oleh sebab itu, berbagai langkah mitigasi perlu segera dijalankan agar risiko yang mungkin timbul dapat ditekan sedini mungkin. Salah satu gagasan yang mengemuka dalam pertemuan tersebut ialah pemanfaatan lubang bekas tambang (void) yang telah memenuhi standar keselamatan sebagai alternatif cadangan air baku. Menurut Ardiansyah, potensi tersebut dapat dioptimalkan untuk menjaga pasokan air bersih ketika debit sungai mengalami penyusutan selama musim kemarau.


Pada saat bersamaan, pemerintah juga mempercepat pengembangan integrated farming (pertanian terpadu), sehingga produktivitas sektor pertanian tetap dapat dipertahankan meskipun menghadapi keterbatasan air.

Arahan itu kemudian diterjemahkan menjadi langkah teknis oleh masing-masing perangkat daerah. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan instansinya akan memperkuat pendampingan kepada petani melalui percepatan musim tanam sebelum puncak kemarau, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, serta penerapan pola tanam yang lebih adaptif mengikuti perubahan iklim. Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan memperkuat cadangan pangan pemerintah beserta lumbung pangan masyarakat. Langkah tersebut disiapkan sebagai bantalan apabila terjadi penurunan produksi akibat kekeringan maupun gagal panen (fuso). Di sektor pelayanan air bersih, Direktur Utama Perumdam Tirta Tuah Benua, Suparjan, menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengkaji berbagai sumber air baku alternatif. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah optimalisasi void bekas tambang yang dinilai aman sehingga kebutuhan air masyarakat tetap dapat dipenuhi apabila musim kemarau menyebabkan debit sungai menurun.

Selain sektor pangan dan air bersih, pemerintah juga memberi perhatian terhadap kemungkinan terjadinya kenaikan harga bahan kebutuhan pokok akibat terganggunya produksi maupun distribusi. Karena itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama Bank Indonesia serta BPS akan terus memantau perkembangan harga sejumlah komoditas strategis, seperti beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, dan cabai rawit yang selama ini menjadi penyumbang utama inflasi daerah.

“Selain melakukan pemantauan rutin, pemerintah juga menyiapkan operasi pasar murah, memperkuat kerja sama antardaerah (KAD), serta memastikan distribusi pangan dari daerah surplus tetap berjalan agar pasokan tetap tersedia dan harga tetap terkendali,” ujar Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani.

Namun, pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi El Niño tidak hanya bergantung pada kebijakan yang disusun di ruang rapat. Ketahanan daerah juga ditentukan oleh keterlibatan masyarakat dalam menjalankan langkah-langkah sederhana yang berdampak besar. Warga diimbau mulai membiasakan penggunaan air secara hemat dan bijaksana, memanfaatkan air hujan selama masih tersedia, serta menghindari pemborosan dalam aktivitas sehari-hari. Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, serta tidak membuang puntung rokok di kawasan yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

Bagi warga yang memiliki pekarangan, pemerintah mendorong penanaman cabai, sayuran, maupun tanaman pangan berumur pendek dengan teknik hemat air. Upaya sederhana itu diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus meredam tekanan permintaan di pasar ketika pasokan mengalami penurunan. Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan menjaga kondisi kesehatan selama cuaca panas berlangsung. Berkaca pada pengalaman sejumlah negara di Eropa, warga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas berat pada siang hari menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala kelelahan akibat suhu tinggi.

Melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Pemkab Kutim berharap dampak El Niño dapat diminimalkan sejak awal. Ikhtiar yang dibangun hari ini tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, tetapi juga menjadi landasan menjaga ketahanan pangan, mengendalikan inflasi, menjamin keberlanjutan pasokan air bersih, serta melindungi keselamatan masyarakat di tengah perubahan iklim global. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini