Beranda Kutai Timur Ruang Tunggu RSUD Kudungga Berubah Makna, Sarana Edukasi untuk Warga

Ruang Tunggu RSUD Kudungga Berubah Makna, Sarana Edukasi untuk Warga

41 views
0

SANGATTA – Derap langkah pasien, bisik percakapan keluarga, dan panggilan antrean yang silih berganti biasanya menjadi irama sehari-hari di lobi rawat jalan RSUD Kudungga Sangatta. Namun dalam dua hari berturut-turut, Selasa hingga Rabu, 10-11 Maret 2026, ruang yang lazim dipenuhi kegelisahan menunggu pelayanan medis itu menjelma menjadi ruang pembelajaran sederhana bagi warga.

Di sela waktu yang kerap terasa panjang, para pengunjung tidak hanya menanti giliran pemeriksaan. Mereka diajak menyimak dua sesi edukasi yang saling berkelindan. Pemahaman mengenai Konvensi Hak Anak (KHA) serta pentingnya periode seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK).

Puluhan orang setiap harinya mengikuti sosialisasi yang berlangsung di ruang tunggu tersebut. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, pasien rawat jalan, anggota keluarga yang mendampingi, hingga petugas pelayanan. Sebagian bahkan datang dari kecamatan lain di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Materi disampaikan oleh Kepala Bidang Keperawatan RSUD Kudungga, Yuliana Kalalembang, yang juga menjabat Ketua PC IBI Kutai Timur. Di hadapan para pengunjung, ia menguraikan prinsip-prinsip dasar mengenai hak anak serta tanggung jawab keluarga dalam memenuhinya.

“Kegiatan ini dilakukan untuk memanfaatkan waktu tunggu pelayanan sekaligus mengurangi rasa jenuh para pasien dan pendampingnya,” ujar Yuliana Kalalembang.

Di ruang yang biasanya dipenuhi percakapan lirih dan langkah kaki yang hilir mudik, suasana perlahan berubah menjadi ruang belajar. Para pengunjung yang sebelumnya sekadar menanti panggilan pelayanan kesehatan kini menyimak penjelasan mengenai kebutuhan dasar anak, perlindungan, hingga peran keluarga dalam memastikan tumbuh kembang yang layak.

Menurut Yuliana, penyampaian materi tersebut bertujuan memperluas pemahaman masyarakat tentang Konvensi Hak Anak, sekaligus memperkuat kesadaran keluarga dalam memenuhi kebutuhan anak secara bertanggung jawab.

“Selain meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Konvensi Hak Anak, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya rumah sakit dalam menyebarluaskan informasi mengenai hak-hak anak kepada masyarakat,” katanya.

Edukasi itu tidak berhenti pada satu topik. Keesokan harinya, ruang tunggu yang sama kembali menjadi arena berbagi pengetahuan. Kali ini pembahasan beralih pada seribu hari pertama kehidupan, fase yang dimulai sejak 270 hari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Dalam paparannya, Yuliana menegaskan bahwa periode tersebut merupakan fondasi penting bagi kualitas kesehatan anak pada masa depan.

“Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Masa ini sangat penting karena menjadi fondasi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pemenuhan kebutuhan pada periode tersebut tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga memerlukan dukungan keluarga, terutama suami.

“Peran suami sangat penting dalam menyiapkan masa 1000 hari pertama kehidupan. Dukungan kepada ibu hamil, baik secara fisik maupun psikologis, akan membantu ibu menjalani kehamilan dengan lebih tenang,” kata Yuliana.

Materi yang dipaparkan meliputi berbagai aspek yang harus diperhatikan keluarga: pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, program keluarga berencana, pemeriksaan kesehatan selama kehamilan, hingga imunisasi bagi ibu dan bayi.

Di sela pemaparan tersebut, para pengunjung tampak menyimak dengan saksama. Sebagian mengangguk pelan, sebagian lain sesekali mengajukan pertanyaan ringan.

Bagi RSUD Kudungga, ruang tunggu bukan lagi sekadar tempat persinggahan bagi pasien yang menanti layanan kesehatan. Tempat itu perlahan diperlakukan sebagai wahana edukasi publik, ruang sederhana yang menanamkan pengetahuan bagi keluarga yang datang dari berbagai penjuru.

Seorang pengunjung, Desna, merasakan manfaat dari kegiatan tersebut. Gadis yang tengah menunggu pelayanan gigi itu datang dari Desa Swarga Bara, RT 08, Sangatta Utara.

Ia mengaku jarang mendengar penjelasan mengenai hak anak maupun pentingnya periode seribu hari pertama kehidupan secara langsung. Menurutnya, informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut terasa baru sekaligus bermanfaat.

Desna pun mengapresiasi kegiatan edukasi yang digelar di RSUD Kudungga Sangatta. Bagi dirinya, waktu menunggu yang biasanya terasa panjang kini berubah menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan yang jarang ia dapatkan sebelumnya.

Langkah sederhana ini menunjukkan bahwa ruang tunggu rumah sakit dapat memikul makna yang lebih luas. Di tempat orang-orang menanti kepastian kesehatan, pengetahuan tentang kehidupan keluarga dan masa depan anak turut disemai, perlahan, namun berjejak panjang. (kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini