Beranda Kutai Timur Dimasa Lalu Jadi Nadi Perekonomian – Kini Karangan Diarahkan Jadi Pusat Pertumbuhan...

Dimasa Lalu Jadi Nadi Perekonomian – Kini Karangan Diarahkan Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi

75 views
0

Kepala Bappeda Kutai Timur Edward Azran memberikan penjelasan Musrenbangcam Karangan (Foto: Irfan Humas)

KARANGAN- Kepala Bappeda Kutai Timur (Kutim) Edward Azran melaporkan di Kecamatan Karangan terkait usulan program musrenbang mencapai total anggaran Rp 39 Miliar di tahun 2020. Bappeda sendiri sudah memverifikasi sejumlah usulan yang masuk terdapat ada 53 kegiatan mencakup 10 OPD dikenai kegiatan.

“Sektor utama yaitu menggerakkan pariwisata. Kita coba fungsikan tahun ini yaitu jalan tembus sebagai pemicu multiefek pembangunan. Sejarah Tahun 70-an, Karangan menjadi lintasan kiriman logistik kayu dari Sangkulirang. Seiring perkembangan jalan poros Karangan akan didekatkan dengan pusat pelayanan lainnya,” jelas Edward saat memandu jalannya musrenbang di Balai Desa Pertemuan (BPU) Desa Pengadan, Selasa (19/2/2019).

Selanjutnya perpindahan barang dan jasa keluar maupun ke dalam harus dipikirkan dengan menghadirkan infrastruktur. Infrastruktur harus memberi manfaat optimal untuk diarahkan dalam pertumbuhan ekonomi. Nah untuk melahirkan orientasi tujuan strategis wilayah maka seharusnya terkoneksi untuk kepentingan masyarakat.

Ditambahkan mantan Kadisperindag itu, di 1997 dirinya pernah menjadi tim surveyor, Karangan belumlah seperti sekarang. Kini Karangan sudah mulai berbenah maju dan melaju. Sudah melesat lewat perubahan seiring pengelolaan sumber daya alam yang kaya.

Sementara itu, Camat Karangan Madnuh menginformasikan akan mengiptomalkan jalan tembus Pengadan-Karangan. Pasalnya memang lokasinya punya potensi wisata dengan pemandangan gunung karst.

“Saya akan berkordinasi dengan Kepala Dinas Pariwisata, kedepan potensi ini jangan sampai dilewatkan,” jelasnya sesuai arahan Bupati Ismunandar.

Madnuh juga menambahkan, selain itu ada prospek potensi perekonomian cukup baik salah satunya di Desa Karangan Ilir. Yakni membuat produk kemasan air gelas mineral.

“Kini sudah tahap pengkajian oleh tenaga teknis terkait. Jika ada acara kita tidak perlu membeli air mineral dari produk luar, tetapi menggunakan produk lokal olahan sendiri berasal dari Karangan. Secara ekonomis harganya lebih murah,” kata Madnuh.

Produk air mineral asli lokal dengam biaya produksi sebesar Rp 200 Juta bisa menghasilkan 2.000 gelas per jam ini sudah dilakukan di DD 2019 ada konsultan yang mengawal. Kedepan Bappeda bisa memberikan perhatian pengembangan usaha produk air ini. Selanjutnya  ada 150 ton produk unggulan kakao setahun mencapai Rp 4,5 miliar. Untuk itu perlu peningkatan nilai jual bibit kakao, pembuatan dumplot kakao pasalnya terdapat 7.958 hektare terdapat tanaman agroindustri yang potensial. Selanjutnya pengadaan mobil angkutan sekolah, dan pembangunan education center anti narkoba. (hms13)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here