Beranda Kutai Timur Puncak Festival Sekerat Nusantara V, Pelestarian Budaya dan Alam Kutim Terus Terjaga

Puncak Festival Sekerat Nusantara V, Pelestarian Budaya dan Alam Kutim Terus Terjaga

147 views
0

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menghadiri kegiatan puncak Festival Sekerat Nusantara V. Foto: Dewi/Pro Kutim

BENGALON – Semarak semangat melestarikan adat, budaya dan kearifan lokal terus bergema dan dijaga dalam penutupan Festival Sekerat Nusantara V yang dirangkai dengan pesta adat belian semegah dan prosesi adat mengulur naga di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Sabtu (12/7/2026).

Festival yang berlangsung sejak 6 Juli 2026 yang lalu tersebut menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kebersamaan masyarakat, dan komitmen pemerintah dalam menjaga identitas budaya Kutai Timur (Kutim).

Penutupan festival dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultan Aji Muhammad Arifin, unsur Forkopimda, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur dan DPRD Kutim, jajaran perangkat daerah, camat, kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan perusahaan, hingga ribuan warga yang memadati lokasi acara.

Ketua Panitia Festival Sekerat Nusantara V, Muhammad Yafi Akbar, dalam laporannya menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama tujuh hari, mulai 6 – 12 Juli 2026.

Berbagai kegiatan disuguhkan kepada masyarakat, mulai dari pameran dan bazar UMKM, permainan tradisional, lomba menyumpit, atraksi budaya, hingga prosesi adat yang berpuncak pada ritual simbolis mengulur naga, sebuah tradisi yang mencerminkan semangat gotong royong dan persatuan masyarakat Desa Sekerat.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kutai yang memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan festival, termasuk seluruh unsur keamanan, sponsor, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga yang bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut.

“Festival ini diharapkan terus berkembang dan menjadi kebanggaan Kutai Timur, bahkan dikenal di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya seraya menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan selama pelaksanaan kegiatan.

Sementara itu, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultan Aji Muhammad Arifin yang diwakili oleh Pangeran Hario Noto Negoro dalam sambutannya, memberikan penghargaan tinggi kepada masyarakat Desa Sekerat yang secara konsisten menjaga tradisi hingga memasuki penyelenggaraan festival yang kelima.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari akar budaya masyarakat. Nilai-nilai adat menjadi fondasi penting agar pembangunan berjalan harmonis, masyarakat hidup rukun, dan investasi dapat berkembang dalam suasana yang kondusif.

“Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi pembangunan masa depan. Ketika adat dijaga, karakter masyarakat akan tetap kokoh dan pembangunan memiliki arah yang jelas,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan makna filosofis prosesi adat yang berkaitan dengan kisah Putri Karang Melenu sebagai bagian dari sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Ia menguraikan empat pilar utama yang menjadi pegangan kehidupan masyarakat, yakni adat, adab, berbudaya, dan beragama. Keempat nilai tersebut dinilai menjadi landasan penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah ataupun lembaga adat, melainkan memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” sebutnya.

Selain itu, Kesultanan juga mengumumkan rencana pelaksanaan Erau di Tenggarong yang dijadwalkan berlangsung mulai 20 September hingga akhir Desember 2026.

Selain itu, direncanakan pula pelaksanaan Erau Tijak Tanah di Kutim yang akan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kutim pada 12 Oktober mendatang.

Ia mengajak seluruh pihak untuk bersinergi agar agenda budaya tersebut dapat terlaksana dengan baik.

Sementara itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa keberlangsungan ritual adat seperti mengulur naga merupakan bagian penting dalam menjaga identitas daerah.

Menurutnya, saat ini baru terdapat dua desa yang secara rutin menyelenggarakan prosesi adat Kutai setiap tahun, yakni Desa Sekerat di Kecamatan Bengalon dan Desa Marukangan di Kecamatan Sandaran.

“Pemerintah memberikan penghargaan kepada desa-desa yang tetap mempertahankan tradisi leluhur. Ke depan kami berharap semakin banyak kecamatan yang menghidupkan kembali ritual adat sebagai bagian dari pelestarian budaya Kutai,” katanya.

Ardiansyah mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat kelembagaan adat melalui pembentukan Majelis Adat dan pemangku adat di berbagai wilayah sebagai upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.

Ia mengaitkan pelestarian budaya dengan upaya Kabupaten Kutim dalam mendukung penetapan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya dunia.

Menurutnya, keberadaan situs-situs purbakala yang menunjukkan jejak kehidupan manusia puluhan ribu tahun silam menjadi bukti bahwa Kutim memiliki kekayaan sejarah yang sangat berharga.

Bupati juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan, terutama di wilayah yang berkembang sebagai kawasan industri pertambangan dan manufaktur.

“Alam boleh dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi jangan sampai dirusak. Kelestarian lingkungan adalah syarat utama pembangunan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Ia berharap Desa Sekerat yang berada di kawasan kaki pegunungan tetap mampu menjaga kelestarian alam sekaligus mempertahankan tradisi budaya sebagai warisan yang akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di akhir sambutannya, Ardiansyah secara resmi menutup rangkaian Pesta Adat Belian Semegah Desa Sekerat dan Festival Sekerat Nusantara V.

Penutupan festival berlangsung khidmat sekaligus meriah. Di tengah lantunan doa dan irama kesenian tradisional, prosesi mengulur naga menjadi penutup yang sarat makna.

Seperti seekor naga yang melambangkan kekuatan dan persatuan, tradisi itu mengalir membawa pesan bahwa budaya akan tetap hidup selama masyarakat terus menjaganya, sementara pembangunan akan semakin kokoh apabila berpijak pada akar sejarah, adat, dan kelestarian alam.(kopi15/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini