Beranda Kutai Timur Ritual Mengulur Naga Semarakkan Festival Sekerat, UMKM Ikut Panen Pembeli 

Ritual Mengulur Naga Semarakkan Festival Sekerat, UMKM Ikut Panen Pembeli 

30 views
0

Festival Sekerat Nusantara V diramaikan dengan stand UMKM yang diminati pengunjung. Foto: Habibah/Pro Kutim

BENGALON – Festival Sekerat Nusantara V yang berlangsung di Pantai Sekerat, Kecamatan Bengalon semakin semarak dengan kehadiran ribuan warga yang memadati lokasi acara pada Minggu (12/7/2026). Selain menjadi ajang pelestarian budaya melalui prosesi adat mengulur naga, festival yang digelar sejak 6–12 Juli 2026 itu juga memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Festival ini dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Sultan Ing Martadipura XXI Aji Muhammad Arifin yang diwakili Pangeran Hario Noto Negoro, Komandan Kodim 0909/KTM Letkol Czi Zaenal Abidin, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Basuki Isnawan, anggota DPRD Kutim Ardianyah, Kasatpol PP Fata Hidayat, serta Kepala Desa Sekerat Sunan Dhika.

Ketua Panitia Festival Sekerat Nusantara V, Muhammad Yafi Akbar, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kutimh yang telah memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan festival, termasuk dukungan dari aparat keamanan sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan aman dan lancar.

“Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur yang telah memberikan dukungan penuh. Terima kasih juga kepada seluruh aparat keamanan, masyarakat, dan panitia yang telah menyumbangkan pikiran, doa, serta tenaga sehingga festival ini dapat terselenggara dengan baik,” ujarnya.

Selama sepekan pelaksanaan, festival diisi berbagai kegiatan seperti bazar UMKM, lomba permainan tradisional menyumpit, tari Jepin massal, hingga prosesi budaya Mangalor Naga yang menjadi daya tarik utama.

Sementara itu dalam sambutannya, Pangeran Hario Noto Negoro yang mewakili Sultan Ing Martadipura XXI Aji Muhammad Arifin menegaskan bahwa budaya merupakan fondasi penting dalam pembangunan daerah.

“Budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Tanah Kutai. Ketika pembangunan dilandaskan dengan budaya, maka pembangunan akan berjalan selaras dan masyarakat akan hidup sejahtera,” katanya.

Menurutnya, menjaga adat dan budaya akan menciptakan kehidupan yang kondusif sehingga pembangunan dapat berlangsung dengan baik. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjadikan budaya sebagai landasan pembangunan yang sesuai dengan karakteristik daerah, termasuk di Desa Sekerat.

Pangeran Hario menjelaskan bahwa prosesi mengulur naga merupakan ritual napak tilas yang berkaitan dengan legenda Putri Karang Melenu, salah satu kisah penting dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara.

Legenda tersebut menceritakan sepasang suami istri yang menemukan seekor ulat kecil di sebatang kayu. Ulat itu dipelihara hingga tumbuh menjadi seekor naga yang dipercaya membawa keberuntungan. Suatu ketika naga itu menghilang bersamaan dengan ditemukannya seorang bayi perempuan di dalam gong yang mengapung di sungai. Bayi tersebut kemudian dikenal sebagai Putri Karang Melenu yang kelak menikah dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti, raja pertama Kerajaan Kutai Kartanegara.

Prosesi mengulur naga sendiri melambangkan pengembalian naga pusaka ke tempat asalnya sebagai simbol kejayaan, kemakmuran, serta perlindungan bagi negeri Kutai Kartanegara. Warna kuning keemasan melambangkan kemuliaan, merah melambangkan keberanian, dan hijau melambangkan kehidupan serta kelestarian alam.

Ia juga mengingatkan bahwa Kesultanan Kutai Kartanegara yang telah berdiri sejak abad ke-4 mewariskan empat nilai utama yang harus terus dijaga, yakni adab, adat, budaya gotong royong, dan kehidupan beragama.

Di sisi lain, geliat ekonomi masyarakat juga terasa selama festival berlangsung. Sapariah, pedagang minuman dan mi rebus yang merupakan warga Pantai Sekerat, mengaku pendapatannya meningkat signifikan dibandingkan hari biasa.

“Kalau hari biasa saya paling dapat sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Selama festival ini, keuntungan bersih yang saya peroleh bisa mencapai sekitar Rp 500 ribu per hari di luar modal,” ungkapnya.

Hal serupa juga dirasakan Anoman, penjual Es Milo, yang mengaku penjualannya meningkat seiring membludaknya pengunjung selama Festival Sekerat Nusantara V.

QMelalui perpaduan pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, Festival Sekerat Nusantara V tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memperkuat identitas budaya Kutai sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM lokal di Kecamatan Bengalon.(kopi10/kopi13/kopi13) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini